Dortmund Minta Suporter Tak Cemooh Hummels

Borussia Dortmund, Mats Hummels, Bayern Munich

Kapten Borussia Dortmund, Mats Hummels, telah mengungkapkan keinginannya untuk pindah ke Bayern Munich pada musim panas ini. Meski suporter Dortmund kecewa, mereka diminta untuk tak mencemooh Hummels.

Mats Hummels sudah berbicara dengan pihak klub untuk membahas masa depannya. Bek berusia 27 tahun itu, yang kontraknya akan habis pada tahun depan, ingin meninggalkan klub dan menyeberang ke Bayern Munich.

Borussia Dortmund memahami bahwa keinginan Hummels untuk pindah ke Bayern yang merupakan tim rival di Bundesliga telah membuat para suporter kecewa. Namun, menurut Dortmund, pemainnya itu sudah melakukan hal yang benar dengan berterus terang kepada pihak klub.

” Saya paham banyak fans kecewa. Meski begitu, penting bagi saya untuk menjelaskan bahwa Mats telah bertindak benar. Dia selalu terbuka dan jujur kepada kami, ” ujar chief executive Dortmund, Hans-Joachim Watzke, di situs resmi klub.

Dortmund akan menjamu Wolfsburg dalam lanjutan Bundesliga di Signal Iduna Park, Sabtu (30/4/2016) besok. Watzke berharap tak ada cemoohan-cemoohan suporter yang ditujukan kepada Hummels.

” Saya akan sangat senang apabila kekecewaan suporter BVB tidak digunakan untuk memusuhi Mats, ” tuturnya.

” Dia tidak pantas mendapatkan itu setelah menjadi bagian sentral dari cerita hebat selama delapan setengah tahun, ” kata Watzke.

Mats Hummels adalah produk akademi Bayern dan pindah ke Borussia Dortmund pada 2008 lalu. Selama berkostum Die Borussen, dia telah memenangi dua gelar Bundesliga, satu gelar DFB-Pokal, dan dua gelar Piala Super Jerman.

Sumber : Detik.com

Lineker Pertanyakan Tempat Rooney di Timnas Inggris

Wayne Rooney, Euro 2016

Mantan bintang Inggris, Gary Lineker, mempertanyakan status pemain Manchester United, Wayne Rooney, sebagai kapten tim nasional.

Harry Kane, Daniel Sturridge, dan Jamie Vardy, tampil jauh lebih baik dari Wayne Rooney, jelang Euro 2016 mendatang.

Lineker lantas mengatakan pada The Mirror: ” Saya kira perannya tak krusial sekarang. Saya tidak ingin orang memandang dengan salah, namun saya kira ada banyak opsi untuk Roy Hodgson di lini depan sekarang. ”

” Ia sudah punya Harry Kane akan sulit untuk tidak memilih Harry, ia mungkin adalah salah satu pemain terbaik yang kita punya sekarang. Dan kemudian ada Vardy, yang tampil amat bagus, anda juga punya Raheem Sterling. Sturridge tidak pernah fit, namun jika ia mampu membuktikan sebaliknya, ia juga bisa jadi opsi yang bagus. ”

” Jadi, tiba-tiba kita punya banyak opsi berbeda di lini depan dan kita tidak terlalu tergantung pada Wayne Rooney. ”

” Jelas, kami akan senang jika ia fit dan menjadi bagian dari skuat, namun ini tidak seperti sebelumnya ketika ia mengalami cedera dan itu seperti akhir segalanya. Ini sudah amat berbeda dibanding masa itu. ”

Sumber : Bola.net

Henrik Larsen, Pemain Cadangan Yang Jadi Top Scorer Euro 1992

Henrik Larsen, Piala Eropa 1992, Timnas Denmark

Seperti yang sudah pernah kami bahas sebelumnya, Keberhasilan Denmark menjadi juara Euro 2012 menjadi bahan pergunjingan seluruh dunia. Pasalnya Denmark yang pada saat itu tidak diperhitungkan menjadi juara Piala Eropa 1992 malah keluar sebagai juara event sepakbola terakbar di benua Eropa tersebut.

Kesuksesan Denmark dalam menjadi Jawara Eropa tersebut tidak terlepas dari kontribusi maksimal yang dilakukan seluh punggawa Timnas, termasuk juga para pemain pengganti. Uniknya, salah satu pemain cadangan Timnas Denmark pada Piala Eropa 1992 menjadi kartu as The Danish Dynamite dalam menyegel gelar juara Euro dengan menjadi top skorer Kejuaraan Empat tahunan tersebut. Sosok pemain cadangan tersebut bernama Henrik Larsen.

Naman Henrik Larsen bukan nama yang cukup tenar di kancah sepakbola Eropa Eropa. Ia menghabiskan sebagian besar karirnya untuk membela tim lokal Denmark, kendati ia pernah dibeli oleh klub asal Italia, Pisa. Namun baru setahun di Pisa, ia dipinjamkan ke beberapa klub setelah Pisa terdegradasi ke Serie B.

Di masa peminjamannya di Lyngby Boldklub, Larsen menunjukan permainan yang apik sehingga ia mencuri perhatian pelatih Timnas Denmark saat itu, Richard Moller Nielsen. Alhasil Larsen yang tidak pernah membela Timnas Denmark di level umur manapun akhirnya mendapat debutnya di Timnas Denmark dan masuk kedalam susunan pemain yang dibawa Nielsen ke Euro 1992.

Di Euro 1992, Larsen sejatinya hanya menjadi pemain pelapis dari John Jensen dan Kim Vilfort di lini tengah The Danish Dynamite. Ia baru mendapat kesempatan bermain di pertandingan kedua Denmark di fase grup menghadapi Swedia menggantikan John Jehnsen di menit 64. Meski pada saat itu Denmark harus dikalahkan Swedia, namun pelatih Nielsen melihat potensi Larsen dan mulai berani berjudi di partai ketiga kontra Prancis.

Pada pertandingan akhir fase grup tersebut, Nielsen menarik keluar Kim Vilfort dari starting line up dan menduetkan Larsen dan John Jensen di lini tengahnya. Hasilnya begitu terasa, baru 8 menit laga berjalan Larsen membuka keunggulan Denmark atas Prancis, di mana pertandingan itu berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan Denmark. Melihat performa menjanjikan Larsen, Pelatih Nielsen tidak ragu untuk mulai memainkannya secara reguler di Euro 1992.

Kesempatan berikutnya datang di partai semifinal. Menghadapi sang juara bertahan Euro 1988, Belanda Larsen pun menunjukkan kebolehannya dengan mencetak dua gol ke gawang Belanda yang dikawal Hans van Breukelen. Hingga  waktu normal berakhir dengan skor 2-2 menjadi skor akhir, sehingga wasit harus meneruskan pertandingan pada babak tambahan waktu dan babak adu penalti.

Larsen juga menjadi eksekutor pertama Denmark pada babak adu penalti kontra Belanda, di mana ia dan rekan-rekannya sukses menjalankan tugas mereka sebagai eksekutor, sementara penalti Marco van Basten di kubu Belanda berhasil digagalkan Peter Schmeichel dan membawa Denmark lolos ke final, menghadapi Jerman.

Di partai final pelatih Nielsen tidak memainkan Henrik Larsen setelah ia tampil tiga kali berturut-turut. Meski tanpa Larsen, Denmark berhasil memenangkan trofi Piala Eropa 1992, di mana Larsen di akhir turnamen di daulat sebagai top skorer Euro 1992 bersama dengan Dennis Bergkamp, Tomas Brolin, dan Karl-Heinz Riedle.

Sumber : Bola.net

Ronaldo Muak dengan Tim Dokter Real Madrid

Cristiano Ronaldo cedera

Bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, dikabarkan sudah tidak lagi percaya pada tim dokter yang ada di klub. Hal tersebut terjadi usai ia mengalami cedera di akhir laga melawan Villarreal, yang membuatnya absen di leg pertama semifinal melawan Manchester City.

Sebagaimana yang dilaporkan sebelumnya oleh AS, Cristiano Ronaldo kini ditangani oleh seorang physio bernama Joaquin Juan, yang juga mendampingi pebasket terkenal, Pau Gasol. Ronaldo berharap sentuhan sang ahli bisa membuatnya tampil bersama Real Madrid di leg kedua laga melawan City pekan depan.

Menurut Sport, tindakan Cristiano Ronaldo membawa physio sendiri merupakan bentuk dari kemarahannya terhadap tim dokter Los Blancos, yang kini dipimpin oleh Dr Olmo. CR7 menilai sang dokter tidak mampu mengatasi masalahnya dengan baik, hingga ia pun dipastikan absen di laga La Liga melawan Real Sociedad akhir pekan nanti.

Pemain Portugal tentu tidak ingin ia juga divonis absen di laga leg kedua melawan Manchester City, yang berpotensi membawa Real Madrid ke final. Oleh karena itu, pemegang tiga trofi Ballon d’Or kini menyerahkan nasibnya pada Juan.

Sumber : Bola.net

Inilah Frank Arnesen, Gelandang Serang Denmark Yang Paling Disegani di Era 80’an

Frank Arnesen

Sebelum keluar sebagai juara Euro tahun 1992 di Swedia, Denmark merupakan negara yang tidak begitu diperhitungkan di sepakbola Eropa. Meski mereka pernah lolos ke babak semifinal Euro 1964, namun Tim yang berjuluk The Danish Dynamite tidak punya prestasi yang bisa dibanggakan di ajang sepakbola Internasional.

Di ajang Piala Dunia pun mereka tidak memiliki prestasi yang memadai, di mana mereka baru masuk pertama kali pada Piala dunia 1986. Keberhasilan mereka masuk ke babak 16 besar itu dimulai pada kesuksesan mereka meraih peringkat ketiga di ajang Euro 1984, yang salah satunya diprakarsai oleh apiknya performa Frank Arnesen.

Nama Frank Arnesen cukup familiar bagi para pecinta sepakbola Eropa. Pernah memperkuat Ajax Amsterdam dari tahun 1975 – 1981 membuat nama Arnesen cukup populer setelah ia membantu Ajax meraih gelar Eredivisie pada tahun 1977, 1979 dan 1980. Selain Ajax, ia juga meraih sukses saat membela Klub Belgia RSC Anderlehct dengan meraih gelar Belgia Pro League pada tahun 1985 dan ia juga membantu rival Ajax, PSV Eindhoven meraih gelar Eredivisie 3 tahun berturut-turut yaitu tahun 1986, 1987, 1988.

Pada saat Euro 1984 sejatinya Arnesen sudah dikatakan sebagai pemain senior, karena ia sudah berusia 30 tahun saat Euro digelar di Prancis untuk kali keduanya tersebut. Meski berstatus sebagai pemain tua, namun Arnesen menunjukan bahwa ia memang pantas di bawa ke Euro dengan mengantarkan Denmark menjadi juara tiga Euro 1984.

Di level Individu, ia merupakan top skorer kedua sepanjang turnamen tersebut, dengan mengumpulkan total 3 gol. Ia kalah dari legenda Prancis, Michel Platini yang mencetak 9 gol sepanjang turnamen Euro 1984 digelar. Selain itu ia juga masuk kedalam jajaran tim terbaik Euro 1984, di mana ia menjadi salah dua pemain Denmark yang masuk kedalam tim tersebut bersama dengan Morten Olsen. Ia memutuskan untuk pensiun empat tahun berselang saat ia membela PSV Eindhoven dan mengantarkan rival Ajax itu meraih tiga gelar Eredivise beruntun.

Seusai pensiun sosok Frank Arnesen dikenal sebagai salah satu Direktur Olahraga yang cukup handal. Ia pernah menjadi Direktur Olahraga PSV Eindhoven selama 10 tahun, di mana ia dikenal sebagai penemu bakat-bakat besar seperti Ronaldo Lima, Jaap Stam, Ruud van Nistelrooy dan Arjen Robben. Setelah selesai di PSV, ia juga pernah menjadi direktur olahraga Tottenham Hotspur dan salah satu prestasi terbaiknya adalah menjadi rekan Jose Mourinho sebagai Direktur Olahraga Chelsea dari tahun 2005-2010 silam.

Sumber : Bola.net

Mengerikan, Eks Pemain Inter Remas Tangan Wasit Hingga Berdarah

McDonald Mariga

Wasit memang kerap menjadi sasaran pelampiasan kekesalan pemain dalam pertandingan sepak bola. Tak jarang pengadil lapangan sampai meregang nyawa akibat dianiaya pemain.

Meski tidak sampai kehilangan nyawa, nasib yang dialami salah seorang wasit yang memimpin pertandingan Serie B, Minggu lalu. Tangannya berdarah gara-gara diremas oleh pemain yang emosi. Seperti dilansir Soccerway, insiden berlangsung saat wasit malang itu memimpin pertandingan Latina Vs Virtus Entella.

Dalam laga ini, sang pengadil lapangan rupanya mengeluarkan kartu merah kepada pemain Latina, McDonald Mariga, pada menit ke-96. Mantan pemain Inter Milan itu ternyata tidak terima. Apalagi dalam duel ini, tim yang dibelanya akhirnya kalah dengan skor tipis 0-1.

Saat hendak meninggalkan lapangan, McDonald Mariga kemudian menghampiri wasit dan pura-pura mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Uluran tangan itu lalu disambut wasit tanpa menaruh rasa curiga.

Saat keduanya berjabat tangan, Mariga lalu melancarkan aksinya. Dia meremas tangan wasit itu dengan sekuat tenaga. Sang pengadil lapangan berusaha melepaskan cengkraman Mariga. Namun tenaga pemain asal Kenya itu lebih kuat dan membuat tangannya berdarah.

Akibat tindakannya, Mariga diganjar sanksi berat. Komisi disiplin menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap perangkat pertandingannya. Akibatnya, pemain berusia 29 tahun tersebut diganjar larangan tampil selama lima pertandingan.

McDonald Mariga merupakan pemain yang pernah tampil di pentas Serie A. Dia pernah memperkuat Inter Milan sejak 2010-2014. Selanjutnya dia pindah ke Parma dan mulai bergabung dengan Latina tahun ini.

Sumber : Liputan6.com

Batistuta Siap Relakan Rekornya pada Lionel messi

Lionel Messi, Gabriel Batistuta

Pemain legendaris Argentina Gabriel Batistuta sudah siap jika rekornya sebagai pencetak gol terbanyak untuk Argentina akan diambil alih oleh Lionel Messi. Meski demikian, ia mengakui jika hal itu terjadi pasti akan menyakitinya.

Dengan jumlah 56 gol bersama Argentina, Batistuta merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk negaranya. Sementara itu, Messi telah mencatatkan 50 gol dengan masa depan masih panjang. Ia dipercaya akan segera memecahkan rekor mantan pemain Fiorentina tersebut.

“Saya menjadi pencetak gol terbanyak tanpa menyadari. Pada satu ketika saya menyadari saya telah mencetak gol lebih banyak dari Maradona,” kata Batistuta pada Fox Sports.

“Bagaimana tak sakit melihat rekor saya terpecahkan? Akan menyakitkan jika Messi memecahkan rekor saya, tapi di sini kita tak bicara soal dikalahkan dalam urusan duniawi,” lanjutnya.

Sumber : Bola.net

Inilah Pencetak Gol Tertua Euro Sepanjang Masa

Ivica Vastic, Timnas Austria

Berstatus sebagai turnamen paling bergengsi di benua biru Eropa, European Championship atau yang dikenal juga dengan Euro menjadi salah satu turnamen yang paling diimpi-impikan oleh para pemain Eropa untuk bertanding ke dalamnya. Oleh karenanya setiap pemain-pemain di Eropa berlomba-lomba untuk tampil memukau di level klub agar bisa memperkuat negaranya di ajang empat tahunan tersebut.

Idealnya pada turnamen seakbar Euro ini, pelatih masing-masing Tim Nasional akan membawa pemain-pemain terbaik yang ada di negaranya. Biasanya pemain-pemain yang di bawa adalah para pemain-pemain ‘matang’ yang berada di akhir usia 20’an yang tengah memasuki periode emas pesepakbola dan juga beberapa pemain muda yang menyandang gelar sebagai wonderkid. Selain kedua tipe pemain ini, para pelatih juga biasanya membawa beberapa pemain ‘tua’ untuk menjaga keseimbangan tim dengan pengalaman bertanding mereka.

Para pemain ‘tua’ ini memang biasanya tidak dimainkan secara penuh dalam turnamen, namun bukan berarti mereka tidak bisa menjadi pembeda dalam sebuah pertandingan. Hal inilah yang terlihat pada sosok Ivica Vastic di Timnas Austria pada ajang Euro 2008. Vastic sendiri bukanlah nama yang tersohor di dunia sepakbola, karena sepanjang karirnya, ia hanya memperkuat beberapa klub lokal Swiss dan sempat membela tim asal Jepang, Nagoya Grampus Eight.

Ivica Vastic sudah langganan tampil di Timnas Austria semenjak ia mendapatkan debut di Das Team pada tahun 1996. Pada ajang Euro 2008 digelar di Austria dan Swiss, Vastic secara mengejutkan dipanggil oleh Pelatih Timnas Austria saat itu, Josef Hickersberger. Pemanggilan ini tergolong mengejutkan karena sudah 2,5 tahun lamanya ia tidak memperkuat Timnas Austria.

Tergabung dalam Grup B bersama Polandia, Kroasia dan Jerman, Austria hanya mampu finish di peringkat tiga Grup B dengan meraih satu hasil seri dan dua kekalahan. Di turnamen Euro 2008, Austria hanya mampu mencetak satu gol saja melalui tendangan penalti Vastic di menit-menit akhir pertandingan kontra Polandia.

Selain menyelamatkan Austria dari kekalahan, Ivica Vastic juga resmi menjadi pencetak gol tertua di sejarah penyelenggaraan Euro. Vastic berusia 38 tahun dan 257 hari saat mencetak gol tersebut, sehingga ia dinobatkan sebagai pemain tertua yang pernah mencetak gol di empat tahunan tersebut. Rekor Vastic ini masih bertahan hingga hari ini.

Sumber : Bola.net

Cedera Benzema Semakin Memperburuk Madrid

Karim Benzema, Real Madrid

Real Madrid akhir-akhir ini diisi dengan kabar yang tidak menyenangkan dari kemenangannya atas Rayo Vallecano. Karim Benzema harus mengalami cedera dan diragukan akan ikut berlaga pada pertandingan selanjutnya. Dia diprediksi akan diistirahatkan.

Real Madrid berhasil mendapat kesuksesan dengan skor 3-2 dalam kunjungannya mereka ke Rayo Vallecano, pada Sabtu (23/4/2016) malam WIB. Berlaga tanpa Cristiano Ronaldo yang juga tengah istirahat pasca cedera, El Real yang sempat jatuh dengan dua gol lebih dulu atas Rayo, akhirnya dapat mengubah kedudukan dari dua gol Gareth Bale dan satu lainnya dari Lucas Vazquez.

Berhasil secara dramatis, Madrid pulang tidak hanya dengan kabar yang kemenangannya tetapi juga perasaan khawatir dari semua penggemar dan yang terlibat dalam klub di laga tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan keadaan Karim Benzema. Striker internasional Prancis tersebut terlihat kesakitan pada bagian kakinya yang kemudian harus digantikan empat menit sebelum babak pertama usai.

Keadaan tersebut semakin menambah keraguan Madrid karena sudah terlebih dahulu ditinggal Ronaldo karena cedera. Padahal, tim mereka di tengah pekan depan harus berkunjung ke Etihad Stadium untuk melawan Manchester City di putaran pertama semifinal Liga Champions.

” Kami harus menanti, apakah Benzema dapat diturunkan saat laga kontra City. Kita akan melihat bagaimana keadaan terbarunya. Kami akan membuat evaluasi terkini. Saya mengharapkan tidak ada hal yang tidak baik terjadi dan dapat bermain kembali bersama Madrid, ” ucap Zinedine Zidane.

Cederanya Karim Benzema bukan saja akan memberi dampak buruk bagi Real Madrid jelang laga lanjutan di Liga Champions. Madrid sangat membutuhkan semua pemainnya dalam kondisi yang bugar agar dapat bertahan dengan persaingan dengan Atletico Madrid dan Barcelona di La Liga Primera.

Ketika Eric Cantona Murka

Eric Cantona, Manchester United

Eric Cantona kembali marah! Kabar ini terkait dengan peristiwa saat dia menendang penggemar Crystal Palace. Mantan pemain Manchester United ini memang terkenal sebagai pesepakbola dengan sifat yang sangat temperamental. Hal ini tentu sangat mengejutkan.

Akan tetapi, ternyata kabar ini tidak sepenuhnya benar, Eric Cantona belum lama ini hanya mengingat kembali peristiwa yang pernah dia lakukan saat menyerang seorang fans Crystal Palace dengan sepakan jitunya. Kejadian tersebut terjadi 21 tahun yang lalu.

Kejadian tersebut bermula pada saat mantan pemain United tersebut memperoleh kartu merah karena melakukan pelanggaran terhadap kiper Richard Shaw. Seorang penonton di Selhurst Park lantas diyakini mengucapkan kata-kata kasar, yakni “ Pulang kembali ke negaramu, sialan. ”

Eric Cantona kick

Hal tersebut membuatnya murka dan langsung berlari dan menendang ke arah suporter. Setelah 21 tahun berlalu, pria dari Prancis tersebut tidak menyesal dengan apa yang dilakukannya, dia malah ingin melakukannya lagi dengan tendangan yang lebih keras.

“ Saya tidak pernah menyaksikan lagi tayangan ulang peristiwa tersebut, karena saya mengetahui apa yang dia perbuat. Rumah saya kemudian banyak didatangi jurnalis dan saya juga tahu apa yang sudah dan harus saya lakukan. Saat ini, saya seperti sedang berdrama dan saya menjadi aktornya. ” ujarnya.

Selain membicarakan kenangan tidak mengenakkannya, Eric Cantona juga membicarakan tentang gaya khas saat di lapangan, yakni bermain dengan kerah jersey yang terbuka ke atas. “ Saya tidak pernah memikirkan hal tersebut. Saat itu saya hanya bermain dan udara begitu dingin, itu membuat saya menaikkan kerah demi dapat berlaga dengan baik. Tim Manchester United saat itu menang dan gaya tersebut menjadi suatu kebiasaan, ” pungkasnya dengan gaya santai.