‘Kritik terhadap Bravo Tidak Adil’

Claudio Bravo dikritik habis menyusul penampilan kurang meyakinkan Manchester City di musim ini. Namun, hal itu bukan sepenuhnya kesalahan si kiper.

Manajer City Josep Guardiola ngotot mendatangkan kiper Chile itu dari Barcelona karena dinilai mampu mendukung sistem permainannya. Kehadiran Bravo lantas menggusur kiper nomor 1 City selama bertahun-tahun: Joe Hart, yang mesti dipinjamkan ke Torino.

Akan tetapi, performa Bravo tak lebih baik dari Hart, bahkan ada yang menganggap justru lebih buruk. Dalam 22 pertandingan Premier League yang telah bergulir, gawang City telah jebol 28 kali terbanyak diantara tim-tim di tujuh besar klasemen sementara.

Kiper berusia 33 tahun itu bertanggung jawab atas 25 gol yang bersarang di gawang timnya, dan baru membuat empat kali clean sheet di liga. Statistik itu diperburuk dengan fakta bahwa Bravo tak mampu melakukan penyelamatan dalam 180 menit penampilannya.

Alhasil, City pun tercecer dari perburuan gelar juara. The Citizens kini terlempar dari empat besar dengan selisih 12 poin dari Chelsea yang memuncaki klasemen sementara.

Mantan kiper City di awal 2000-an, David James, mengira ada kesalahan Guardiola dalam performa buruk Bravo.

“Bravo disorot besar-besaran belakangan ini, saya pikir itu tidak adil,” nilai James, yang dilansir Soccer Way. “Halitu hampir seperti sebuah klise, seperti ‘ini kesalahan Bravo’. Bukannya, Anda menganalisa gol-gol yang sudah terjadi dan dia begitu terbuka.”

“Coba pikir, kalau semua orang maju ke depan, dan saya harus kembali ke sudut pandang analisis saya bahwa seseorang seperti (Kevin) De Bruyne yang, sebelum dia bergabung City, mungkin ada gelandang yang sempurna. Dia maju ke depan, mengkreasi gol, mencetak banyak gol, tapi dia juga melakukan tekel di areanya sendiri. Sekarang saya tidak melihat dia yang demikian, di musim ini.”

“Lagi, kalau kritik untuk setiap pemain harus ditantang dengan pemahaman sebenarnya tentang apa yang sebenarnya diinginkan manajer. Kalau Pep Guardiola ingin Bravo bermain dengan cara tertentu, yang sudah pasti dilakukannya, maka si pemian kan harus melakukan apa yang diinginkan manajer,” simpul eks pemain timnas Inggris itu.

Di akhir pekan ini, City akan menghadapi Crystal Palace di babak kelima Piala FA. Setelahnya Bravo dkk. akan menyambangi markas West Ham untuk melakoni lanjutan Premier League di tengah pekan.

Sumber : Detik.com

De Bruyne Tetap Setia Pada Filosofi Guardiola

kevin-de-bruyne

Kevin de Bruyne mengatakan Manchester City dan Josep Guardiola tidak perlu mengubah filosofi bermain mereka, terlepas dari hasil buruk yang mereka raih dalam beberapa pertandingan terakhir.

The Citizens sebelumnya sempat menang di 10 laga beruntun di semua kompetisi awal musim ini. Namun kini, mereka sudah puasa kemenangan di lima laga terakhir dan seringkali membuat kesalahan di lini belakang, yang memudahkan lawan mencetak gol.

Namun De Bruyne masih amat percaya dengan filosofi yang diusung Guardiola dan meminta tim terus mendukung sang manajer.

“Kami terus bermain dan kami tidak pernah benar-benar berlatih penuh, itu sulit. Gol yang kami derita lebih karena kesalahan kami. Jadi jika kami bisa meminimalisir itu, semua akan lebih baik,” tutur De Bruyne di Daily Mail.

“Jika manajer mengubah gayanya, semua orang akan bertanya-tanya. Ini filosofinya dan ia beranggapan ini benar. Ia sudah meraih banyak hal dengan cara bermain seperti ini, jadi saya bisa mengerti mengapa ia terus melakukannya.”

“Selain laga melawan Southampton, kami sebenarnya bermain bagus. Selalu ada tantangan baru di sepakbola. Anda hanya harus beradaptasi.”

Sumber : Bola.net