‘City Sudah Menepis Keraguan’

city-sudah-menepis-keraguan

Sempat melaju mulus, sempat pula terhambat. Manchester City untuk beberapa saat disebut sedang krisis kepercayaan diri. Tapi The Citizens membantahnya.

City sempat melaju amat mulus di awal musim ini. Mereka memenangi 10 pertandingan pertama di musim ini dalam berbagai ajang. Enam kemenangan dicatatkan di Premier League, sementara dua lainnya di play-off Liga Champions, satu di fase grup turnamen tersebut, dan satu lainnya di Piala Liga Inggris.

Hanya saja kemudian skuat besutan Pep Guardiola melambat. Mereka merangkai enam laga tanpa kemenangan, memetik tiga hasil imbang dan tiga kekalahan.

Mereka berimbang kontra Celtic, Everton, dan Southampton. Sementara kekalahan ditelan dari Tottenham Hotspur, Barcelona, dan Manchester United.

Dengan kekalahan dialami dari lawan-lawan besar dan tricky tersebut, City sempat dinilai sebenarnya belum mapan secara permainan. Bahkan diduga para pemain sejatinya belum sepenuhnya yakin dengan cara bermain yang diusung Guardiola.

Tapi kemenangan meyakinkan 3-1 atas Barcelona, Rabu (2/11/2016) dinihari WIB menjadi semacam respons. Pablo Zabaleta menilai City sudah menjawab keraguan publik.

“Kami sudah memulai musim dengan sangat baik, memenangi seluruh laga di Premier League dan Liga Champions, sampai kemudian kami mengalami sedikit hambatan,” katanya dikutip Sky Sports.

“Orang-orang sebelumnya membicarakan soal krisis atau mengatakan kami sedikit meragukan gaya bermain kami (dengan Guardiola). Tapi kami merespons dengan baik pada beberapa laga terakhir.”

“Tentu saja gaya Pep adalah dengan meyakini kerja keras, yakin dengan apa yang kami lakukan, apa yang kami kerjakan untuk ke depannya, dan itulah cara terbaik untuk melangkah,” imbuh bek kanan asal Argentina itu.

Sebelum menggasak Barca, City sudah mendapatkan momentum bagus dengan mengatasi West Bromwich Albion 4-0. Mereka selanjutnya akan melawan Middlesbrough akhir pekan ini.

Sumber : Detik.com

Tentang Penalti-Penalti Gagal City

josep-guardiola

Manchester City gagal memaksimalkan dua tendangan penalti saat berimbang dengan Everton. Hal itu menambah catatan tak bagus City dari titik 12 pas musim ini.

Di Etihad, Sabtu (15/10/2016), City tertinggal lebih dulu lewat gol dari Romelu Lukaku di menit ke-64 sebelum akhirnya mengamankan satu poin berkat gol Nolito di menit ke-72.

Pun begitu, The Citizens sebenarnya punya peluang emas untuk menang berkat dua tendangan penalti yang diberikan wasit Michael Oliver. Tapi keduanya gagal berbuah gol.

Pada kesempatan pertama di menit ke-43 ada Kevin de Bruyne yang gagal menaklukkan Maarten Stekelenburg di bawah mistar gawang Everton. Stekelenburg kembali mampu mengamankan gawangnya pada penalti kedua City yang dieksekusi Sergio Aguero di menit ke-70.

Dalam catatan BBC, aksi Stekelenburg itu menjadi kedelapan kalinya seorang kiper bisa dua kali menyelamatkan gawang dari tendangan penalti dalam sebuah partai Premier League. City sendiri kini sudah empat kali gagal memaksimalkan penalti dari total delapan tendangan 12 pas yang mereka dapatkan di seluruh kompetisi pada awal musim ini.

Sementara itu, sebut Manchester Evening News, musim ini Aguero juga sudah empat kali gagal menuntaskan tugas sebagai algojo penalti buat klub dan negaranya. Baru beberapa hari lalu penyerang asal Argentina itu juga gagal bikin gol dari titik putih ketika tim Tango tunduk 0-1 dari Paraguay di partai kualifikasi Piala Dunia 2018.

Catatan tak bagus City dalam urusan penalti tersebut sudah membuat manajer Pep Guardiola mengindikasikan bakal segera memulai sesi-sesi latihan eksekusi dari titik putih. Ia menyatakan City memang belum sempat melakukannya sebelum laga lawan Everton.

“Saya tak memiliki waktu untuk melatih segala sesuatu yang ingin saya latih. Penalti bisa dilatih saat latihan, tapi belum ada pemain yang melakukannya di sana. Itu (penalti) krusial (semisal) di final Liga Champions. Kalau pemain bertekad, ‘Saya akan ada di sana (latihan penalti)’, itu sudah cukup,” kata Guardiola di Manchester Evening News.

Sumber : Detik.com

Guardiola Berharap Etihad Semeriah Kandang Celtic

pep-guardiola

Atmosfer meriah di kandang Celtic membuat Pep Guardiola kagum. Ia berharap atmosfer serupa juga bisa hadir di kandang Manchester City, Stadion Etihad.

City bertandang ke kandang Celtic, Celtic Park, pada matchday II Liga Champions 2016/2017, Kamis (29/9/2016) dini hari WIB. Mereka lalu pulang membawa satu poin usai bermain imbang 3-3.

Usai pertandingan, Guardiola mengaku menerima hasil imbang tersebut. Namun, ada hal lain yang memenuhi benaknya selain hasil pertandingan, yakni atmosfer yang menyelimuti Celtic Park.

Celtic Park dipadati oleh 57.592 penonton dini hari tadi. Mayoritas pendukung Celtic yang hadir pada laga tersebut tidak berhenti bersorak sepanjang pertandingan. Lagu “You’ll Never Walk Alone” mereka lantunkan dengan lantang sebelum pertandingan dimulai. Bahkan ketika skor berubah menjadi sama kuat 3-3, mereka tidak berhenti bernyanyi.

Cerita berbeda ada di Etihad. Ketika City menjamu Borussia Moenchengladbach di matchday I dua pekan lalu, stadion tidak terisi penuh. Tribun atas stadion berkapasitas sekitar 55 ribu tempat duduk itu kosong. Suasana stadion pun menjadi sepi.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Etihad menjadi “kosong”. Pertama, pertandingan melawan Gladbach kala itu ditunda sehari lantaran badai. Kedua, antipati pendukung City terhadap UEFA.

Kendati begitu, Guardiola berharap suatu hari nanti, City bisa memiliki stadion dengan atmosfer yang begitu meriah seperti Celtic.

“Tiap klub punya kepribadiannya sendiri-sendiri. Saya ingin Manchester City seperti mereka,” ujar Guardiola seperti dilansir Soccerway.

“Tiap klub juga punya sejarahnya sendiri-sendiri, juga bagaimana mereka menghadapi sebuah situasi, dan bagaimana dukungan penontonnya. Saya senang dengan apa yang kami miliki saat ini. Celtic sendiri punya sejarah di kompetisi Eropa dan kami ingin membangun sejarah kami sendiri,” kata Guardiola.

Celtic adalah tim asal Britania pertama yang menjuarai Liga Champions (dulu European Cup) ketika mereka memenanginya pada 1967 dengan menundukkan Inter Milan di Lisbon. Sampai saat ini, Celtic adalah satu-satunya tim dari Skotlandia yang berhasil menjuarai Liga Champions.

Sumber : Detik.com

Ibrahimovic-Mourinho Bersatu untuk Kalahkan Guardiola

zlatan-ibrahimovic-jose-mourinho-pep-guardiola

Derby Manchester di Old Trafford, Sabtu (20/9/2016) menjadi laga spesial untuk striker Manchester United, Zlatan Ibrahimovic dan manajer Jose Mourinho. Mereka bakal menghadapi musuh bersamanya, yakni manajer Manchester City, Pep Guardiola.

Ibrahimovic punya masalah pribadi dengan Guardiola saat masih bekerja sama di Barcelona. Pemain asal Swedia itu hanya semusim di Camp Nou, yakni pada 2009/10. Di musim keduanya bersama Barcelona, Ibrahimovic dipinjamkan ke AC Milan.

Sementara Mourinho yang pernah bersahabat dengan Guardiola kini menjadi rival. Setidaknya, Mourinho sudah tujuh kali dikalahkan Guardiola dalam 16 pertemuan. Sedangkan Mourinho baru mengalahkan Guardiola dalam tiga pertandingan.

Dalam Derby Manchester, Ibrahimovic yang saat ini sudah berusia 34 tahun bakal bekerja sama dengan Mourinho mengalahkan Guardiola. “Saya sudah mengenal Mourinho sejak di Inter. Dia seorang pemenang dan saya pun demikian. Meski sedikit lebih tua, saya akan melakukan segalanya untuk meraih kemenangan,” kata Ibrahimovic, dikutip dari Goal.

“Di mana pun Mourinho melatih, dia selalu menjadi pemenang. Dia pernah memenangan Liga Champions bersama Porto, meski tidak ada yang memprediksinya,” ujarnya menambahkan.

Ibrahimovic mengatakan bahwa Mourinho merupakan pelatih yang berbeda. Menurutnya, manajer asal Portugal itu merupakan manusia yang jujur.

“Mourinho sangat terbuka dengan semua orang. Dia tidak bakal membicarakan Anda dari belakang. Tapi, dia akan memberi tahu Anda bila tidak bermain dengan baik. Dia melakukan hal yang diperlukan untuk memenangkan sebuah pertandingan. Sama seperti saya, dia tidak suka dengan kekalahan,” ucap Ibrahimovic.

Ibrahimovic tak punya banyak waktu bersama Barcelona. Dia hanya semusim berada di Camp Nou dengan mencetak 17 gol di La Liga. Musim keduanya, yakni 2010/11, Guardiola yang saat itu melatih Barcelona melepas Ibrahimovic ke AC Milan dengan status pemain pinjaman.

Dalam buku autobiografinya, Ibrahimovic mengungkapkan kekesalannya kepada Guardiola. Dia bahkan mengakui tidak akur dengan pelatih asal Spanyol tersebut.

“Antara saya dan dirinya (Guardiola), seperti perang. Guardiola adalah seorang pengecut yang bahkan tidak berani melihat langsung ke arah saya dan mengucapkan selamat pagi,” tulis Ibrahimovic di dalam bukunya.

Tidak hanya itu saja, Ibrahimovic malah pernah menyindir Guardiola dengan nada keras. “Anda (Guardiola) itu membeli Ferrari, tapi mengemudikannya seperti mengendarai Fiat,” ujarnya ketika baru bergabung dengan Setan Merah, awal musim ini.

Sumber : Liputan6.com

‘Guardiola Mengubah Mentalitas City’

pep-guardiola

Kedatangan Pep Guardiola disebut Fernandinho mengubah beberapa hal di Manchester City. Satu hal yang disebutnya paling utama adalah perubahan mentalitas tim.

Sejak awal kedatangannya, Guardiola memang menghadirkan hal yang berbeda di City. Salah satu contohnya adalah peraturan diet yang ketat yang diterapkan kepada para pemain.

Guardiola menuntut fisik yang prima dari para pemainnya. Mereka yang dinilai kegemukan tidak akan diperbolehkan mengikuti latihan.

Itu baru soal fisik. Soal mental pemain, Guardiola juga disebut telah melakukan perubahan. Fernandinho mengungkapkan bahwa manajer asal Spanyol itu telah menanamkan mental juara kepada para pemainnya.

“Ketika dia datang ke City, hal pertama yang dia coba untuk ubah adalah mentalitas tim, pemain, dia mencoba menanamkan mental juara ke dalam kepala kami,” ujar Fernandinho seperti dikutip dari Soccerway.

“Untuk menjadi juara, kami harus mengubah beberapa hal — sesi latihan, permainan, banyak hal. Kami sedang mencoba melakukannya. Setiap sesi, dan setiap pertandingan, kami mencoba untuk lebih baik tapi kami masih di awal, baru dua bulan bersama.”

“Kami sudah melihat beberapa perubahan, beberapa hal positif. Kami sudah memenangi tiga laga terakhir di Premier League,” lanjut gelandang asal Brasil itu.

“Ini penting karena di akhir musim kami ingin mengangkat trofi, jadi awalnya harus sangat, sangat bagus. Saya harap kami bisa melakukan ini sampai akhir musim,” katanya.

Sumber : Detik.com

Pengorbanan Zabaleta yang Berbuah Manis

Pablo Zabaleta

Pablo Zabaleta harus mengambil keputusan sulit pada musim panas ini. Keputusan yang diambilnya itu memberinya kesempatan untuk menghidupkan lagi kariernya di Manchester City.

Kedatangan Pep Guardiola sebagai manajer baru City sempat membuat masa depan Zabaleta dispekulasikan. Dengan usianya yang sudah 31 tahun, Zabaleta sempat diduga tak akan masuk ke dalam rencana Guardiola. Dia bahkan disebut-sebut akan hengkang ke AS Roma.

Apalagi, Zabaleta musim lalu telah kehilangan posisinya sebagai pilihan pertama di posisi bek kanan City. Pemain asal Argentina itu terus bergelut dengan cedera engkel dan akhirnya kalah bersaing dengan Bacary Sagna.

Namun, tenaga Zabaleta ternyata masih dibutuhkan oleh Guardiola. Saat Sagna harus absen karena cedera hamstring, Zabaleta menjadi andalan sang manajer di sisi kanan pertahanan The Citizens.

Apa yang dilalui Zabaleta saat ini tak terlepas dari pengorbanan yang dia lakukan. Dia harus melewatkan kesempatan tampil di Copa America Centenario bersama timnas Argentina demi menjalani operasi engkel.

“Saya telah bermain selama lebih dari setahun dengan cedera engkel dan melaluinya dengan injeksi. Jika melihat ke belakang, mungkin melakukan injeksi bukanlah keputusan yang tepat,” ujar Zabaleta, yang kembali masuk skuat Argentina untuk laga melawan Uruguay dan Venezuela di Kualifikasi Piala Dunia 2018.

“Saya harus mengatasi masalah itu dan menjalani operasi untuk menghilangkan pengapuran yang telah membatasi pergerakan saya. Saya harus beristirahat selama tiga bulan setelah operasi dan saya menghabiskan musim panas untuk memulihkan engkel saya dan kembali ke puncak kebugaran,” jelasnya.

“Saya harus melewatkan kesempatan bermain untuk negara saya di Copa America, yang mana merupakan salah satu keputusan tersulit dalam karier saya,” tutur Zabaleta.

“Butuh waktu empat tahun sampai Copa America datang lagi, dan saya akan berumur 35 tahun. Anda tak pernah tahu, tapi itu mungkin adalah kesempatan terakhir saya. Namun, saya merasa jauh lebih baik sekarang dan tak merasakan sakit apapun,” katanya.

Di bawah arahan Guardiola, Zabaleta bukan hanya bertugas sebagai bek kanan. Saat City menguasai bola, dia juga diminta bergerak ke tengah dan menjadi semacam gelandang tengah tambahan. Bagi Zabaleta, ini bukan hal baru.

“Kami punya peran yang berbeda musim ini. Kadang-kadang bermain lebih ke tengah dan menjadi bagian dari proses membangun serangan, lalu dengan cepat kembali ke posisi ketika kami kehilangan bola,” ujarnya.

“Saya bermain sebagai gelandang tengah di bawah (manajer-manajer City sebelumnya) Mark Hughes dan Roberto Mancini. Jadi, ini bukan hal baru bagi saya,” kata Zabaleta seperti dikutip Mirror.

Sumber : Detik.com